Pisau dalam Mata Delusimu

terlalu biasa sampai nasib takluk dalam sekongkol cekik iblis dan sugesti;
yang berputar untuk setiap empat bulan penutup terakhir
dan buat tahun ini kelayakan diri 
tanggal sebanyak juga ntah berapa purnama
dengan peduli yang nggak kuberi kesempatan untuk muncul menyela

esok lekas kurampungkan trilogi tumbuhan ini
serta merta calon tetralogi prematur yang mati
oleh tampar keras panas para temanku yang peduli
yang iba atas ketidaknyangkutan segala usaha setengah mati

sepuluh kali segara beriak melolong mohon untuk nyandingi dewi malam
sepuluh kali juga aku jadi terlibat arkade pasar malam tahun baru, tentu sebagai yang dimainkan
berulang kali aku bilang tapi masih sayang, wajar namanya sayang
atau- ya barangkali memang?
tapi kemudian malam-malam, plafonku jebol karna harga diriku duluan marah, pergi--melayang.

//

Solo Raya, akhir Desember 2024.


Comments