Ketika Sempat Dilepas
gemuruh dan mendung yang bukan di atas langit—
melainkan di koridor hati—akhir-akhir ini,
sedang rawan gentayangan walau bukan di jam kerja
mencabut gurat-gurat suka pada jiwa yang berusaha
malam tadi, ntah malaikat mana atau setan mana,
yang menjungkirbalikkan suasana:
kamu menduga-duga dan malah tertawa (seharusnya jijik!)
kecacatanku kalian peluk erat-erat (tanya bangku yang di sana, ia saksi!)
maka tatapku kosong pada candaanmu yang menggema
aku menoleh pada temanmu yang satunya: benarkah ini semua?
dan masih, tawa dan senyum ambigu itu terekam nyata
teratai busuk di hatiku akhirnya merekah. batinku: alhamdulillah!
kemudian dentuman di jendela itu membangunkanku sahur,
masih dalam sayup mata, malaikat dan setan sekongkol meninju
selama memang aku masih hidup, kata mereka,
tak usah harap kenal kata bebas.
lalu mereka pergi,
dan aku,
kembali duduk dalam belenggu (seperti hari biasa)—
bersiap-siap untuk sahur.
//
Yk, 15/03/2024
Comments
Post a Comment