Marbot Dermaga

Angin menggiring masa hingga ke ujung. Dan kembalilah lagi matahari pada peraduannya; mengambil jatah peristirahatan. Sumbu-sumbu malam mulai melingkup, mengikat sendu-muram aksara bersama serba-serbi kenestapaannya, lemah-letihnya. Dan di atas sana, warga-warga angkasa jerih menatap sang belia yang di bibir pantai.

"Sudahlah, Nak!
Usah kau urus lagi dermaga kosong itu, berhantu!
Ikhlaslah dan pulang!"

begitu tegur Pak Tua yang bertengger di ujung bulan sabit
belia itu sama sekali tak hirau,
ini milik cintanya, pikirnya.

"Nak, usailah!-"

"Aku melakukan semua ini supaya tempat ini tetap indah jika suatu saat ia putuskan untuk kembali pulang!"
potongnya.

Sunyi melolong. Mata malaikat natap duka.

//

Tng, 5/7/23

Comments