Panggilan Igau
/1/ Begitu pekat serangkaian kenang yang meleleh dalam mimpi-mimpi terkini.
Memberi bangkit pada igau-igauan yang semakin tangguh untuk menggigit.
Maka ada yang sedikit memaksa di tepi sana, di dalam sana.
Dan tugas saya memanglah buat menuruti.
Saya tandangi lagi beranda yang di sana. Mau coba kembali percaya.
Dalam menit-menit pertama, saya masih yakin; angin yang terbang ke tiang-tiang utara akan termasuknya menggiring Sang Dewi Malam di siang terik yang seperti kebocoran neraka ini.
Walau kunjung saja yang terpandangi hanyalah sekawanan kutilang dalam jam kerja.
/2/ Sehelai daun kering jatuh; menyetubuhi ubin-ubin temaram.
Kupalingkan muka, masih ingin nyoba percaya apapun ketetapannya.
Helai kedua meliuk juga; jatuh pada buai aspal-aspal kering.
Belum sempat saya menoleh, tambah banyak yang jatuh. Beramai-ramai tergiur hasutan gravitasi akan bumi yang nyaman untuk disetubuhi.
Padahal kawan, sekalipun saya tak akan iri.
//
Kng, Maret 2023.
Comments
Post a Comment